#rahliastory

Suamiku,
Istrimu ini hanya salah satu dari wanita akhir zaman yang dipasangkan untuk mu. Banyak hal yang mungkin saja saya tidak tahu dan mengerti. Banyak kesalahan yang mungkin juga masih sering diperbuat.

Suamiku,
Jika ketidaktahuan itu membuatmu gundah, ajarkan saya tetap di jalan-Nya. Jika kesalahan yg ku lakukan juga mengkhawatirkan mu akan azab-Nya, maka didik saya dengan kasih dan sayang mu.

Suamiku,
Izinkan saya menjadi wanita pilihan terbaikmu yang membuatmu akan memperoleh Surga-Nya kelak. Izinkan saya menjadi wanita yang rela melakukan apa saja selagi dijalan-Nya untuk mendapat ridho-Nya melalui ridho mu.

Suamiku,
Bukan harta, tahta atau perhiasan duniawi lainnya yang saya pinta. Namun, tetaplah menjadi imam yang penuh kelembutan, kasih dan sayang, menjaga hati ini berada terus untukmu, senantiasa takut akan-Nya, tetap memberi dikala sulit dan memberi senyum disaat terhimpit.

Suamiku,
Jika selama ini inspirasi hidup saya adalah Nabi Muhammad SAW dan kedua orang tua saya, maka mulai 24 September 2016 kemarin, engkau sudah menjadi inspirasi dalam hidup saya.

Ingatlah Suamiku,
Kita bersatu bukan karena kita saling memilih,
Tapi kita yang dipilih-Nya bersama, Inshaa Allah atas kehendak-Nya sampai ajal menjemput kita.

Terima kasih, Suamiku…

Friday, Oct’ 14th 2016

Happy milad Kota Medan tercinta ke 425 tahun. Semoga semakin baik ekonomi, perkembangan budaya dan sosialnya. Dihadirkan masyarakat masyarakat kreatif dan inovatif serta mampu bersaing secara nasional maupun Internasional yang selalu memberikan dampak positif untuk perkembangan Kota Medan… 👏😘🎆🎉🎊🎁🎂🍰

Semoga seluruh ujian yang sedang melanda Kota Medan dapat menjadi pelajaran…. Aamiin

View on Path

Sungguh telah kafir orang – orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Almasih putra Maryam.” Padahal Almasih (sendiri) berkata, “Wahai Bani Israil, Sembahlah Allah, Tuhan ku dan Tuhan mu.” Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang – orang zalim itu.

::: Al – Maidah ; 72 :::

View on Path

Hijrah

Assalamu’alaikum Wr.Wb…..

Lama sekali rasanya tidak menulis apapun di blog ini, apa karena aku yang terlalu sibuk atau karena imajinasinya sedang tidak produktif. Apapun itu jawabannya yang pasti hari ini aku akan menuliskan sepenggal pengalaman religiku selama menghilang dari kehidupan tulis menulis.

Jika kalian sempat kenal atau tau aku tentang aku, pasti ketika kalian bertemu dengan ku saat ini akan kalian temukan perubahan yang cukup signifikan. Perubahan yang merupakan perintah si Pemilik Kehidupan (Allah SWT) dan Insha Allah perubahan ini dapat aku jalani dengan penuh istiqomah. Aamiin..

2014 menjadi tahun yang membuat aku banyak belajar tentang proses kehidupan, mulai dari ikhlas, memilih sampai kepada memutuskan sesuatu yang sebenarnya kita tidak mau. Proses yang Insha Allah membuat aku merasa beruntung dan merasa Allah sedang mempersiapkan aku berada di posisi mulia diantara hamba – hamba-Nya. Aku merasa sangat beruntung sebab diperbolehkan Allah merasakan proses yang penuh dengan kekhawatiran, kelemahan sebagai seorang anak perempuan yang mandiri, dan kesedihan yang tidak perlu orang lain tau apapun itu.

Sepanjang tahun 2014, aku memperoleh banyak kesempatan dan rezeki yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Ya itu karena selama ini mama dan papa selalu menanamkan nasihat kebaikan kepada ku “Lakukan sebuah pekerjaan dengan Ikhlas tanpa mengharap apapun dikemudian hari, karena Allah selalu menyaksikan apa yang kita lakukan selama ini”. Alhamdulillah nasihat itu aku jalani dengan penuh keyakinan, bekerja ikhlas tanpa memikirkan kelelahan fisik dan pikiran diri sendiri bahkan terkesan mengabaikan kebahagian diri sendiri untuk kepentingan banyak orang. Ikhlas, Lillahi Ta’ala…. Tapi tetap saja kita tidak pernah bisa meangasumsikan apa yang akan terjadi pada kehidupan kita dikemudian hari sekalipun kita telah melakukan hal yang baik dari apa yang kita miliki, walau akhirnya apa yang kita lakukan selama ini dianggap biasa saja oleh sekolompok orang tapi yakinlah Allah selalu lebih tau apa yang sebenarnya terjadi. Penghujung tahun yang mencekam, bahasa yang berlebihan mungkin. Tapi hal itu memang aku rasakan.

Keyakinan yang selalu aku tanamkan pada diri ini ternyata membuahkan hasil, walau sebenarnya kita merasa itu tidak secepat apa yang kita inginkan, tapi yakinlah Allah telah menetapkan semuanya pada waktu dan tempat yang terbaik. Alhamdulillah rezeki baru yang tak terduga, dipertemukan dengan orang – orang baru yang jika kita lihat dari penampilannya sangat dekat dengan Allah. Insha Allah semua prasangka baik ini menjadi doa yang mengawali langkah di awal 2015. Diberi kesempatan bekerja pada sebuah Yayasan keluarga yang Alhamdulillah Muslim yang taat, diperkenalkan dengan atasan dan pemilik yang mehijabkan dirinya dengan pakaian Syar’i.

Seminggu pertama bergabungnya aku disini mengantarkan kenyamanan, adanya kesamaan visi dan keyakinan yang membuat kita merasa berada di tempat yang benar. Insha Allah.. Banyak hal baru yang aku perhatikan, banyak kebiasaan dan budaya baru yang aku temukan yang Insha Allah semuanya sesuai dengan apa yang Allah perintahkan.

Bulan pertama di Februari, akhirnya memantapkan diri menjadi bagian dari kebaikan yang ada disekitar. Hijab ku yang dulu tak sepenuhnya menutupi dada dan pakaian ku yang selama ini masih menyerupai seorang kaum mulai saat itu aku merubahnya. Menetapkan hati dan bersyukur pada Illahi memutuskan Berhijab Syar’i. Menghijrahkan diri ke kiblat kebenaran, yang selama ini hanya aku dengar dan lihat tanpa menghiraukannya sebab merasa itu akan terlihat kuno dan tidak modern.. Astaghfirullah, pemahaman yang sangat salah selama ini bersemayam di pikiran ku.

Alhamdulillah, sampai hari ini Insha Allah masih Istiqomah dan Insha Allah sampai akhirnya Allah mencabut nyawa ini akan tetap bisa menjaga diri dengan pakaian Syar’i yang telah Allah perintahkan :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab : 59)

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan Katakanlah kepada wanita beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki mereka, atau putera saudara-saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan –pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur : 31)

Perintah Allah yang selama hidup ku masih hanya dibaca dan Alhamdulillah Allah membukakan hati ini melalui pertanda – pertanda kecil yang ada disekitar ku.

Al-Quran adalah panduan kehidupan yang abadi, perintah langsung dari Pemilik Kehidupan. Kenapa aturan perusahaan atau pemerintah yang belum tentu memberikan apa apa kepada kita dapat kita lakukan, tapi aturan Allah yang memiliki seluruh alam semesta dan isinya kita abaikan ?

Salahnya Cara Kita Ber-Tuhan

Kita semua sering kali merasa paling benar cara ber-Tuhan. Merasa kita adalah hamba yang paling mencintai Tuhan, paling taat akan perintah dan larangan – Nya bahkan bisa jadi paling yakin kalau di akhir hidup kita ditempatkan di surga.

Bisa jadi perasaan itu datang ketika hamba Tuhan lainnya yg ada disekeliling kita sering kali menyampaikan kebaikan kita, perasaan itu mungkin juga datang dari ketidakalphaan kita untuk beribadah, atau ada lagi kemungkinan datang dari kemudahan kemudahan yang acap kali kita rasakan untuk setiap urusan.

Tapi ada satu masa dimana kita merasa sangat bahagia sehingga kita meninggalkan Tuhan walau sebentar. Tuhan tidak lantas marah ibarat seorang sahabat, kekasih atau saudara yang pasti langsung marah ketika kita tidak menginggat mereka untuk beberapa kepentingan. Tuhan tidak pernah menjauhkan langkahNya bahkan ketika sudah terang-terangan kita mengkhianati dan melanggar aturan-Nya, Dia tetap ada di sekitar kita mengingatkan dan membrikan pertanda yang sangat halus.

Dan kita pasti akan pulang bersujud padaNya ketika kekecewaan kita kepada hambaNya melukai perasaan. Apakah kita tidak pernah terpikir bila pengkhianatan itu kita lakukan dan Tuhan sangat kecewa. Kita terus menangis, meletakkan prasangka yang sering negatif kepada-Nya “Mengapa Tuhan tidak adil pada saya”, terus bersujud sampai akirnya kita sadar tak ada yg kita miliki sellain atas kehendak-Nya.

Sujud dan tangisan berakhir, lantas kita kembali pada aktifitas ber-Tuhan yang tak semestinya. Datang ke hadapan Nya ketika beban kepedihan, kesedihan, kedukaan yang menggelayut jiwa bertubi tubi menyiksa. Jarang atau tak pernah datang ke hadapannya ketika bahagia, kelimpahan nikmat yag kita peroleh.

Astaghfirullah……Astagfirullahal’adzim…..

Allah yang Maha Pengampun hanya Engkau satu satunya tempat yg paling pantas untuk menggantungkan semua harapan dan melunakkan amarah serta menghabiskan kedukaan. Jangan biarkan kami menjadi Hamba yang melangkah jauh untuk meninggalkan perintah-Mu tapi jadikan kami Hamba yang selalu melibatkan Mu untuk semua urusan hidup ini. Izinkan hati ini tetap menghambakan diri dalam kondisi apapun, menjadi hamba yang selalu pandai mensyukuri segala nikmat nikmat luar biasa dari Mu.

Allah yang Maha penyayang dan Pengasih, lindungi perjalannan hidup kami tetap di jalan yg telah engkau tetapkan. Tegur kami dengan cara-Mu.

Tuntun kami untuk selalu berTuhan pada-Mu dengan cara yang pernah Muhammad lakukan sebagai Nabi-Mu.

Aamiin ….

Senin, 22 Des ’14

20.48 WIB

Bergantung dan Percayalah Tetap Pada Janji Tuhan-Mu, Bukan Pada Hamba-Nya

Manusia, makhluk Tuhan yang sering kali dilingkupi dengan keegoan. Emosi yang sering tak stabil mengalahkan akal sehat, melakukan hal yang di luar kebiasaannya hanya untuk membahagiakan orang lain yang mungkin saja dia tidak mengharapkan kembali apapun.

Manusia, makhluk Tuhan yang lebih bahagia mendengar janji hamba-Nya dari pada terus berbuat lurus dan baik untuk mencari kepastian janji Tuhannya. Manusia yang lebih bersemangat dengan janji seorang hamba yang padahal juga masih berharap pada satu zat yang bernama TUHAN.

Seorang hamba yang menaruhkan harapan tertingginya kepada sesama hamba hanya akan menggiringnya pada lubang kesedihan yang bisa jadi tidak akan pernah berakhir. Sebab dia akan meratapi, mengapa terlalu jauh dia menjatuhkan harapannya kepada seseorang yang bisa jadi bersikap untuk mengingat Tuhan saja jarang atau mungkin sering kali terabaikan.

Kepedihan itu tapi bisa saja bersifat sementara ketika hamba yang lainnya kembali menawarkan janji dan membiarkan dia bergantung padanya. Kembali berduka, kembali mengingat Tuhannya, kembali bersedih beruraian air mata penyesalan.

Lantas bagaimana kebaikan yang tulus dilakukan tapi tak dihargai, apa masih bs kita menaruh harapan kepada manusia? Berbuat baik kepada sesama, membiarkan Takdir Tuhan berjalan apa adanya menjadikan kita seorang hamba yang tidak pernah menaruh harapan kepada hamba lainnya.

Sebab… Sebaik – baiknya harapan adalah harapan yang ditujukan kepada Tuhan yang menciptakan mu dan memberikan kenikmatan disetiap hembusan nafas mu.

Sebab Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sejauh apapun kita berusaha meninggalkan-Nya.

Bergantung dan Percayalah tetap pada Janji Tuhan – Mu, bukan pada Hamba-Nya.